Aku begitu jijik
sekali dengan hewan kecil bertubuh memanjang, lunak, tidak berangka
dan tidak mempunyai kaki. Tidak lain hewan itu dikenal dengan nama
cacing atau dalam bahasa latinnya “Vermes”. Hal ini bisa terjadi
ketika masa kecil aku pernah mengalami kejadian yang membuat aku
trauma dengan hewan tersebut. Seperti kebanyakan anak-anak yang
pernah mengalami apa yang aku alami, yaitu harus rutin makan obat
cacing dengan tujuan agar bebas cacingan dan memutus mata rantai
hewan tersebut yang diyakini berkembang di dalam perut. Pemikiran ini
dipicu karena masa anak-anak yang sering bermain tanah atau
kotor-kotor. Sehingga menyebabkan telur cacing yang kasat mata ikut
masuk ke dalam tubuh melalui pori-pori tangan, kaki atau bagian tubuh
lainnya. Selain itu, telur cacing juga ikut masuk dalam makanan saat
mencuci tangan tidak bersih. Untuk itulah makan obat cacing yang
rutin dianjurkan. Sehingga suatu saat, aku mengalami kejadian yang
menakutkan bagiku. Setelah memakan obat tersebut, akhirnya cacing
tersebut ikut keluar melalui kotoran pada saat buang air besar.
Tubuhnya yang panjang tampak dalam kotoran tersebut, yang membuat
keringat dingin menguncur keluar dari tubuhku. Saat itulah ketakutan
ku terhadap hewan yang berjalan dengan perut tersebut berawal. Dan
phobia terhadapnya dimulai dalam hidupku. Bagaimana aku tidak takut
melihat tubuhnya yang utuh dan memanjang, apalagi dalam jumlah yang
banyak itu keluar? Oh sungguh pemandangan yang menjijikkan dalam
pikiranku, sehingga mengubahnya ke dalam bentuk ketakutan alias
phobia di saat itu. Untuk mengatasi ketakutan tersebut, aku
menyarankan kepada orangtuaku agar mereka membeli obat cacing yang
lebih ampuh membunuh hewan tersebut, maksudnya saat mereka
dikeluarkan bersama kotoran, tubuh mereka tidak tampak utuh lagi
melainkan sudah hancur karena obat cacing itu. Akhirnya harapanku
terwujud juga. Itulah awal mula kisahku bermula perihal hewan bernama
cacing.
Waktu terus
berputar menemani setiap aktivitas yang ku jalani. Hingga suatu
ketika membawaku kepada sebuah pertemuan kembali dengan hewan bernama
cacing itu. Berawal dari kisah di atas, semua jenis cacing harus aku
hindari, bukan hanya cacing yang sering bersemanyam dalam perut, tapi
juga jenis cacing yang sering ku jumpai di lingkungan sekitar rumah,
alias cacing yang hidup di dalam tanah atau dikenal dengan cacing
tanah. Aku selalu menjumpai mereka tanpa disengaja, saat aku menggali
tanah untuk keperluan menanam bunga atau tanaman, atau melihat mereka
berjalan di atas tanah. Sering aku mengalaminya.
Pertemuan ku dengan
mereka tanpa sengaja bukanlah fenomena yang asing lagi bagiku. Namun,
ada sebuah kisah yang membuat aku harus bertemu dengan mereka dengan
sengaja. Beginilah kisah tersebut.
Suatu ketika, aku
pernah melintasi sebuah aliran sungai saat aku pergi bermain ke rumah
teman. Banyak jalan yang bisa ditempuh ke tempat tujuanku, namun
untuk menghemat waktu, aku pun ke sana melalui jalan semak belukar
yang ada di belakang rumahku. Sebelum sampai ke rumah sang teman, aku
harus bertemu dengan sebuah aliran air, dikatakan sungai, bukan.
Mungkin lebih tepat disebut bendungan. Dengan hati-hati aku
melewatinya dengan berpijak pada batu-batu yang ku temui di sana. Dan
akhir perjuangan menerobos bendungan itu dengan melompatinya. Pada
saat melalui perjalanan itulah aku berkeyakinan di bendungan ada
ikan. Hingga aku mempunyai sebuah rencana akan memancing di sana
suatu saat nanti.
Rencana ingin
memancing di bendungan akhirnya aku lakukan juga. Maklum aku tipe
orang yang suka menyendiri, ku rasa di sana adalah tempat yang cocok
untuk menyendiri dengan memancing, pikirku saat itu.
Untuk memancing
tentunya aku harus menyiapkan segala peralatan yang digunakan. Di
mulai dari yang mudah diperoleh, yakni pancingan sederhana yang aku
ambil dari semak di belakang rumah. Alat pancingan yang berupa kayu
panjang, tali pancing aku cari dari tempat penyimpanan berbagai
peralatan yang ada di rumah, yah tentunya punya ayahku. Alhamdulillah
ketemu tali pancing di sana. Semua sudah lengkap. Tapi, eits tunggu
sebentar. Ada satu lagi yang sangat dibutuhkan dalam memancing, itu
adalah umpannya. Umpan? Yah, umpan adalah makanan ikan yang dikaitkan
pada mata kail. Oh ya, kailnya tidak ada, tapi bagiku tidak masalah,
aku akan mengikat umpan dengan tali pada pancingan, itu rencanaku.
Sejenak aku
bingung, apa umpan yang akan aku pasang pada pancingan? Biasanya aku
mengetahui umpan yang sering dipakai adalah cacing. Yah, hewan yang
aku takuti selama ini. Bagaimana ini? Meskipun begitu, aku tidak
dengan mudah untuk mundur dan membatalkan niat memancingku. Sehingga
sebuah ide muncul dalam benakku untuk mengatasi ketakutanku terhadap
cacing. Dalam pikiranku yang menyebabkan terjadinya rasa takut kepada
cacing adalah melihat cara jalan mereka yang mengeliat.
Setelah mendapatkan
ide, akhirnya aku mencari cacing dengan menggali tanah yang ku yakini
di sana pasti ada cacingnya. Cacing yang ku cari akhirnya ku temui
juga, dengan bantuan potongan kayu tanpa harus menyentuhnya, cacing
berhasil ku ambil dan kumasukkan dalam sebuah wadah berupa kaleng
bekas. Cukup satu ekor cacing saja. Ku bawa kaleng berisi cacing ke
rumah. Lalu ku ambil air panas dari dalam termos, ku masukkan air
panas tersebut ke dalam wadah berisi cacing itu. Itulah ide yang aku
dapatkan untuk mengatasi rasa takut tersebut. Yah, aku memang takut
dengan cacing, itu jika ia hidup, karena kalau ia hidup, ia akan
mengeliat-ngeliat. Sehingga aku harus membunuhnya dengan direndam
dalam air panas dulu. Merupakan ide yang gila. Akhirnya cacing
tersebut berubah warna menjadi putih pucat. Ia pun tidak bergerak
sedikit pun, menandai kalau cacing telah mati.
Setelah mengikat
cacing pada tali pancing, aku pun berangkat menuju bendungan yang ku
yakini ada ikan di sana. Setelah lama berdiam di sana, tak ada
tanda-tanda umpanku akan di makan oleh ikan. Akhirnya, aku memutuskan
untuk meninggalkan bendungan dengan meninggalkan pancing, dan ke sini
lagi keesokan harinya untuk melihat pancingan ini.
Keesokan harinya
aku pergi lagi ke bendungan untuk melihat hasil tangkapanku. Oh,
ternyata umpanku masih utuh, setelah berpikir sejenak, aku
beranggapan kalau di sini memang tidak ada ikan. Aku pun pulang ke
rumah.
Itulah sedikit
kisahku tentang cacing. Kejadian di atas pada saat aku masih duduk di
bangku kelas dua atau tiga sd, lupa aku yang pastinya kelas berapa.
Setelah beranjak
dewasa, rasa ketakutan tersebut bisa ku minimalisir sebaik mungkin,
dengan tidak merasa takut yang berlebihan. Sehingga aku tidak terlalu
phobia lagi dengan hewan lunak tersebut.