Kamis, 12 Juni 2014

Cacing

Aku begitu jijik sekali dengan hewan kecil bertubuh memanjang, lunak, tidak berangka dan tidak mempunyai kaki. Tidak lain hewan itu dikenal dengan nama cacing atau dalam bahasa latinnya “Vermes”. Hal ini bisa terjadi ketika masa kecil aku pernah mengalami kejadian yang membuat aku trauma dengan hewan tersebut. Seperti kebanyakan anak-anak yang pernah mengalami apa yang aku alami, yaitu harus rutin makan obat cacing dengan tujuan agar bebas cacingan dan memutus mata rantai hewan tersebut yang diyakini berkembang di dalam perut. Pemikiran ini dipicu karena masa anak-anak yang sering bermain tanah atau kotor-kotor. Sehingga menyebabkan telur cacing yang kasat mata ikut masuk ke dalam tubuh melalui pori-pori tangan, kaki atau bagian tubuh lainnya. Selain itu, telur cacing juga ikut masuk dalam makanan saat mencuci tangan tidak bersih. Untuk itulah makan obat cacing yang rutin dianjurkan. Sehingga suatu saat, aku mengalami kejadian yang menakutkan bagiku. Setelah memakan obat tersebut, akhirnya cacing tersebut ikut keluar melalui kotoran pada saat buang air besar. Tubuhnya yang panjang tampak dalam kotoran tersebut, yang membuat keringat dingin menguncur keluar dari tubuhku. Saat itulah ketakutan ku terhadap hewan yang berjalan dengan perut tersebut berawal. Dan phobia terhadapnya dimulai dalam hidupku. Bagaimana aku tidak takut melihat tubuhnya yang utuh dan memanjang, apalagi dalam jumlah yang banyak itu keluar? Oh sungguh pemandangan yang menjijikkan dalam pikiranku, sehingga mengubahnya ke dalam bentuk ketakutan alias phobia di saat itu. Untuk mengatasi ketakutan tersebut, aku menyarankan kepada orangtuaku agar mereka membeli obat cacing yang lebih ampuh membunuh hewan tersebut, maksudnya saat mereka dikeluarkan bersama kotoran, tubuh mereka tidak tampak utuh lagi melainkan sudah hancur karena obat cacing itu. Akhirnya harapanku terwujud juga. Itulah awal mula kisahku bermula perihal hewan bernama cacing.
Waktu terus berputar menemani setiap aktivitas yang ku jalani. Hingga suatu ketika membawaku kepada sebuah pertemuan kembali dengan hewan bernama cacing itu. Berawal dari kisah di atas, semua jenis cacing harus aku hindari, bukan hanya cacing yang sering bersemanyam dalam perut, tapi juga jenis cacing yang sering ku jumpai di lingkungan sekitar rumah, alias cacing yang hidup di dalam tanah atau dikenal dengan cacing tanah. Aku selalu menjumpai mereka tanpa disengaja, saat aku menggali tanah untuk keperluan menanam bunga atau tanaman, atau melihat mereka berjalan di atas tanah. Sering aku mengalaminya.
Pertemuan ku dengan mereka tanpa sengaja bukanlah fenomena yang asing lagi bagiku. Namun, ada sebuah kisah yang membuat aku harus bertemu dengan mereka dengan sengaja. Beginilah kisah tersebut.
Suatu ketika, aku pernah melintasi sebuah aliran sungai saat aku pergi bermain ke rumah teman. Banyak jalan yang bisa ditempuh ke tempat tujuanku, namun untuk menghemat waktu, aku pun ke sana melalui jalan semak belukar yang ada di belakang rumahku. Sebelum sampai ke rumah sang teman, aku harus bertemu dengan sebuah aliran air, dikatakan sungai, bukan. Mungkin lebih tepat disebut bendungan. Dengan hati-hati aku melewatinya dengan berpijak pada batu-batu yang ku temui di sana. Dan akhir perjuangan menerobos bendungan itu dengan melompatinya. Pada saat melalui perjalanan itulah aku berkeyakinan di bendungan ada ikan. Hingga aku mempunyai sebuah rencana akan memancing di sana suatu saat nanti.
Rencana ingin memancing di bendungan akhirnya aku lakukan juga. Maklum aku tipe orang yang suka menyendiri, ku rasa di sana adalah tempat yang cocok untuk menyendiri dengan memancing, pikirku saat itu.
Untuk memancing tentunya aku harus menyiapkan segala peralatan yang digunakan. Di mulai dari yang mudah diperoleh, yakni pancingan sederhana yang aku ambil dari semak di belakang rumah. Alat pancingan yang berupa kayu panjang, tali pancing aku cari dari tempat penyimpanan berbagai peralatan yang ada di rumah, yah tentunya punya ayahku. Alhamdulillah ketemu tali pancing di sana. Semua sudah lengkap. Tapi, eits tunggu sebentar. Ada satu lagi yang sangat dibutuhkan dalam memancing, itu adalah umpannya. Umpan? Yah, umpan adalah makanan ikan yang dikaitkan pada mata kail. Oh ya, kailnya tidak ada, tapi bagiku tidak masalah, aku akan mengikat umpan dengan tali pada pancingan, itu rencanaku.
Sejenak aku bingung, apa umpan yang akan aku pasang pada pancingan? Biasanya aku mengetahui umpan yang sering dipakai adalah cacing. Yah, hewan yang aku takuti selama ini. Bagaimana ini? Meskipun begitu, aku tidak dengan mudah untuk mundur dan membatalkan niat memancingku. Sehingga sebuah ide muncul dalam benakku untuk mengatasi ketakutanku terhadap cacing. Dalam pikiranku yang menyebabkan terjadinya rasa takut kepada cacing adalah melihat cara jalan mereka yang mengeliat.
Setelah mendapatkan ide, akhirnya aku mencari cacing dengan menggali tanah yang ku yakini di sana pasti ada cacingnya. Cacing yang ku cari akhirnya ku temui juga, dengan bantuan potongan kayu tanpa harus menyentuhnya, cacing berhasil ku ambil dan kumasukkan dalam sebuah wadah berupa kaleng bekas. Cukup satu ekor cacing saja. Ku bawa kaleng berisi cacing ke rumah. Lalu ku ambil air panas dari dalam termos, ku masukkan air panas tersebut ke dalam wadah berisi cacing itu. Itulah ide yang aku dapatkan untuk mengatasi rasa takut tersebut. Yah, aku memang takut dengan cacing, itu jika ia hidup, karena kalau ia hidup, ia akan mengeliat-ngeliat. Sehingga aku harus membunuhnya dengan direndam dalam air panas dulu. Merupakan ide yang gila. Akhirnya cacing tersebut berubah warna menjadi putih pucat. Ia pun tidak bergerak sedikit pun, menandai kalau cacing telah mati.
Setelah mengikat cacing pada tali pancing, aku pun berangkat menuju bendungan yang ku yakini ada ikan di sana. Setelah lama berdiam di sana, tak ada tanda-tanda umpanku akan di makan oleh ikan. Akhirnya, aku memutuskan untuk meninggalkan bendungan dengan meninggalkan pancing, dan ke sini lagi keesokan harinya untuk melihat pancingan ini.
Keesokan harinya aku pergi lagi ke bendungan untuk melihat hasil tangkapanku. Oh, ternyata umpanku masih utuh, setelah berpikir sejenak, aku beranggapan kalau di sini memang tidak ada ikan. Aku pun pulang ke rumah.
Itulah sedikit kisahku tentang cacing. Kejadian di atas pada saat aku masih duduk di bangku kelas dua atau tiga sd, lupa aku yang pastinya kelas berapa.
Setelah beranjak dewasa, rasa ketakutan tersebut bisa ku minimalisir sebaik mungkin, dengan tidak merasa takut yang berlebihan. Sehingga aku tidak terlalu phobia lagi dengan hewan lunak tersebut.